|
Jakarta (The Jakarta Post: (26/02/07) Ujian nasional kira-kira tinggal dua bulan lagi, dan jika anda mempunyai waktu luang, serta kemampuan (baik profesional ataupun sulap) untuk mengajar murid-murid kelas 3 SMP tentang segala sesuatu yang perlu mereka ketahui tentang pelajaran Matematika sebelum bulan April, SMP 3 di Pulau Rusa di Papua membuka kesempatan kerja bagi anda. “Murid-murid dipersiapkan untuk ikut pelajaran ekstra setiap harinya sampai lampu mati,” saat genset di pulau itu dihentikan, kata Nikolas Watem, seorang guru di sekolah yang ada di pulau di wilayah kabupatan Raja Ampat itu, yang jauhnya sekitar tiga jam perjalanan dengan speedboat dari pelabuhan sorong di barat laut Papua.
Dia adalah satu diantara tiga guru SMP di pulau itu. Ada sejumlah 38 murid yang akan menghadapi ujian pada bulan April nanti. Sampai dengan pertengahan Februari, sekolah ini belum punya seorangpun untuk secara khusus mengajar masing-masing dari tiga mata pelajaran yang akan diujikan secara nasional, yakni: Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Watem dan guru lain, Yustius Umpain, bekerja sekuat tenaga untuk mengisi kekosongan ini. Watem mengajar Bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain; sedangkan Umpain mengampu mata pelajaran geografi dan sejarah. Tidak ada satu muridpun yang mempunyai buku teks mereka sendiri, jadi mereka menyalin catatan dari papan tulis.
Kepala sekolah, yang sering harus bekerja meninggalkan pulau selama berbulan-bulan, mengajarkan kewarganegaraan Indonesia. Para wali murid menyatakan bahwa mereka siap untuk membayar dua kali lipat dari Rp50,000 (5,26 dolar) iuran sekolah bulanan yang biasanya, sebagaimana yang diminta oleh guru, untuk membantu mengontrak staf baru – apapun untuk memastikan anak-anak mereka akan lulus. Para wali murid dan guru SMP 3, semuanya berbakti pada sekolah, dan masyarakat setempat– dimana sekali tempo anak-anak membolos sekolah dan ikut pergi memancing bersama orang tua mereka - punya kepedulian yang lebih besar akan pentingnya pendidikan.
Dedikasi seperti inilah mengapa ada beberapa murid yang jelas-jelas sudah berumur masih mengenakan seragam biru pendek – nelayan berumur 19 tahun duduk sekelas dengan anak-anak yang jauh lebih muda. Para guru menyatakan mereka tidak tahu bagaimana sekolah akan mampu mengulangi keberhasilan mereka selama tujuh tahun berturut-turut untuk kelulusan 100 persen. Ini tidaklah berarti harus mendapatkan nilai tinggi, tapi ini memerlukan setidaknya nilai 2.6 dari 10. Raja Ampat dijadikan kabupaten pada tahun 2002. “Tetapi, kita telah mengajukan penambahan guru selama lima tahun terakhir ini,” kata Watem. |