Login Form
| PENDIDIKAN YANG HUMANIS |
|
|
|
| Tuesday, 10 April 2007 | |||||||||
Halaman 7 dari 7 PENUTUP Otonomi pendidikan sebenarnya selalu hadir disaat orang tua menyerahkan pendidikan anaknya kepada sekolah. Agar anaknya dilatih memanusiakan dan menemukan dirinya sendiri secara utuh dan bermartabat kemanusiaan. Implikasi dari paham ini adalah bahwa setiap individu merupakan titipan Tuhan, anak manusia adalah unik dan seharusnya tidak boleh diperlakukan secara seragam. Sekolah hendaknya membantu siswa dalam proses menjadi dirinya sendiri, dalam berproses menjadi citra Tuhan (process of becoming oneself). Pada zaman ini pentinglah untuk mengubah kiblat pendidikan diri yang berorientasi pada sebagian diri manusia ke keseluruhan diri manusia seutuhnya. Supremasi pendidikan hendaknya pada kebutuhan diri manusia agar manusia semakin berbudaya dan berkembang secara utuh. Untuk dapat mengadakan reformasi pendidikan, hal-hal berikut perlu mendapatkan pertimbangannya: a) siswa dijadikan subyek pendidikan dan pusat proses pembelajaran; b) teori aktivitas diri dan aktif-positif merupakan dasar dari proses pembelajaran; c) tujuan pendidikan dirumuskan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa daripada tekanan pada penguasaan materi pelajaran; d) kurikulum sekolah disusun dalam kerangka kegiatan bersama atau kegiatan yang bersifat “proyek”; e) perlunya secara rutin kontrol informal di kelas dan sosialisasi mengajar dan belajar atau kegiatan bersama di tengah-tengah arus deras individualisme; g) hendaknya banyak diterapkan keaktifan berpikir dan berargumentasi daripada sekedar menghafal atau mengingat-ingat saja; h) pendidikan hendaknya mengembangkan kreativitas siswa. Oleh karena itu perlulah dipersiapkan pendidik yang fleksibel dalam profesinya. Lebih penting mengajarkan bagaimana belajar daripada apa yang dipelajari. Perlu dipertimbangkan juga kaitan antara bangunan sekolah, sistem pendidikan, guru dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas pembelajaran dan pendidikan. Guru harus menuntut dirinya untuk dapat menjadi figur teladan atau model bagi para peserta didik. Sistem kerja dari berdasar pada waktu ke penampilan mutu kerja. Guru dipersiapkan dan dilatih sehingga mampu berperan seperti di dalam keluarga. Pentingnya guru belajar mendengarkan, berkomunikasi dan berelasi dengan seluruh anggota komunitas sekolah. Yang lebih penting lagi guru harus selalu berusaha “memperhitungkan” siswa, dan mengkondisikan bahwa siswa itu penting. Menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri siswa. Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian. Semoga!
Sumber : http://bruderfic.or.id |
|||||||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




