|
Halaman 1 dari 2 Media Indonesia (23/04/07), Survey Litbang Media Group: Mayoritas anak didik, baik di bangku sekolah dan perguruan tinggi melakukan kecurangan akademik dalam bentuk menyontek. Survey menemukan, kecurangan akademik muncul disebabkan lingkungan sekolah atau pendidikan.
Media Indonesia (13/04/07), Survey Litbang Media Group: Mayoritas anak didik, baik di bangku sekolah dan perguruan tinggi melakukan kecurangan akademik dalam bentuk menyontek. Survey menemukan, kecurangan akademik muncul disebabkan lingkungan sekolah atau pendidikan.
Demikian yang terungkap dalam survei litbang Media Group yang dilakukan 19 April 2007 di enam kota besar di Indonesia. Survei dilakukan dengan wawancara terstruktur dengan kuesioner melalui pesawat telepon kepada masyarakat di enam kota besar di Indonesia. Kota-kota tersebut meliputi Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Survei itu mencakup 480 responden dewasa yang dipilih secara acak dari buku petunjuk telepon residensial di kota-kota tersebut.
Survei dilakukan untuk mencoba menguak maraknya kecurangan akademik di institusi pendidikan kita. Selain itu, survei dilakukan untuk menjawab pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul adanya kecurangan sebelum dan setelah Ujian Nasional (UN). Pertanyaannya, apakah integritas akademik begitu sulit untuk ditegakkan sehingga masih saja ditemukan kecurangan? Hasil survei menyebutkan hampir 70% responden yang ditanya apakah pernah menyontek ketika masih sekolah atau kuliah menjawab pernah (lihat Grafik 1). Berarti, mayoritas responden penelitian pernah melakukan kecurangan akademik berupa menyontek.
Tindakan yang dapat dikategorikan menyontek ada beberapa bentuk, antara lain menyalin jawaban teman atau mengintip dari buku catatan ketika ujian, atau menyalin kalimat dari buku cetak tanpa menyebutkan sumbernya saat ujian atau mengerjakan tugas. Selain itu, siswa yang memberi jawaban untuk temannya saat ujian juga masuk kategori menyontek karena membantu kegiatan me nyontek. Dengan demikian, menyontek dapat dikategorikan seba gai kecurangan akademik yang serius karena melanggar integritas akademik.
Teman dan sanksi
Tentang mengapa siswa / maha siswa melakukan kecurangan akademik dapat dijelaskan oleh sebab personal dan sebab lingkungan. Dalam survei ini dan studi lain yang dilakukan McCabe dkk tahun 2001 di Amerika Serikat (AS), ditemukan bahwa penyebab lingkungan ternyata lebih besar peranannya dalam memunculkan tindakan menyontek peserta didik. Yang termasuk penyebab ling- kungan adalah teman dan hukuman.
Ketika ditanya berapa banyak teman responden dulu yang menyontek, mayoritas responden survei ini (46%) menjawab banyak. Jumlah yang menjawab sedikit juga tidak berbeda jauh, ada 44 persen. Sedangkan yang menjawab tidak ada hanya tujuh persen saja (lihat Grafik 2).
Hasil uji Chi-Square antara jawaban ini dengan jawaban pada pertanyaan pertama menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara responden yang men- jawab pernah menyontek dengan yang tidak pernah menyontek.
Responden yang mengaku pernah menyontek menilai banyak teman mereka yang menyontek. Sedangkan responden yang mengaku tidak pernah menyontek menilai hanya sedikit atau bahkan tidak ada teman mereka yang menyontek.
Artinya, tindakan menyontek amat dipengaruhi oleh teman. Jika teman menyontek, maka peserta didik juga akan menyontek. Sebaliknya, jika teman tidak menyontek atau hanya sedikit yang menyontek maka peserta didik juga cenderung tidak akan menyontek. Selain teman, tindakan menyontek juga disebabkan lemahnya pemberlakuan sanksi. Mayoritas responden survei (66 persen) melihat bahwa guru atau dosen hanya memberikan hukuman yang lemah seperti menegur atau meminta ujian ulang peserta didik yang ketahuan menyontek (lihat Grafik 3). Hanya sedikit guru atau dosen yang memberi hukuman berat seperti membatalkan kelulusan peserta. didik (15 persen).
Pengujian dengan Chi-Square antara jawaban ini dengan jawaban pada pertanyaan pertama juga menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara responden yang menjawab pernah menyontek dengan yang tidak pernah menyontek. Responden yang mengaku pernah menyontek menilai hukuman yang diberikan pada peserta didik yang ketahuan menyontek ringan, tidak tentu, atau bahkan tidak ada hukuman sama sekali. Sedangkan responden yang mengaku tidak pernah menyontek cenderung menjawab hukuman yang diberikan pada peserta didik yang ketahuan menyontek berat atau tidak tentu.
Artinya, tindakan menyontek juga berhubungan dengan penerapan sanksi kepada pelakunya. Sanksi yang lemah akan percuma karena hanya menimbulkan ketakutan sesaat, tetapi tidak memunculkan efek jera, baik pada pelaku maupun pada temantemannya. Jika sanksi yang diberikan berat, seperti tidak naik kelas atau tidak lulus mata kuliah, maka itu akan lebih efektif untuk meminimalisasi tindakan menyontek.
Selain itu, pemberian sanksi yang tidak konsisten juga dapat menurunkan efektivitas hukuman. Ketidakkonsistenan hukuman tidak menyebabkan perbedaan pada peserta didik yang pernah menyontek dengan yang tidak pernah menyontek.
|