|
Halaman 1 dari 2 Jakarta (The Jakarta Post: (01/05/07) Hari Pendidikan National yang jatuh pada tanggal 2 Mei tahun ini, seharusnya bisa menjadi momentum untuk memperbaiki nasib para guru, orang yang berperanan sangat penting di bidang pendidikan, jika kita percaya bahwa pendidikan adalah wahana menuju kemajuan. Perlunya untuk meningkatkan kesejahteraan para guru dan dosen, yang telah ditelantarkan cukup lama, cukup mendesak oleh karena dua alasan. Pertama, mereka merupakan motor pembentukan sumber daya manusia terdidik dan terlatih yang diperlukan negara untuk bisa berdiri sejajar dengan negara-negara lain, namun mereka termasuk diantara orang-orang yang berpenghasilan rendah di tengah masyarakat.
Lupakan visi 2030 tentang perubahan Indonesia menjadi negara terbesar kelima di bidang ekonomi jika tidak ada perbaikan di bidang pendidikan dan kesejahteraan lebih dari 3 juta guru di Indonesia. Pengalaman Jepang, Korea Selatan dan Singapura membuktikan bahwa perkembangan ekonomi terkait dengan kemajuan pendidikan. Gaji untuk guru dan dosen di Indonesia termasuk yang paling rendah di ASEAN. Seorang profesor di salah satu universitas negeri, sebagai contoh, hanya menerima Rp2.7 juta (US$300) untuk tiap bulannya atau seperempat- belas gaji rekan sejawatnya di Malaysia, sementara gaji untuk para guru di sekolah dasar dan menengah bahkan lebih rendah lagi.
Kelompok yang termarginalkan ini tidak hanya mendapatkan gaji rendah saja, tapi juga sering dijadikan kambing hitam atas mutu pendidikan yang rendah dan penyakit masyarakat seperti kerusakan moral, tawuran pelajar, kenakalan remaja dan kecanduan obat-obat terlarang.Baik pemerintah maupun masyarakat seolah tidak menghargai para pendidik dan seolah-olah gaji pas-pasan mereka adalah suatu realitas yang harus diterima. Sesungguhnya ada banyak guru dan dosen yang bagus di negeri ini. Banyak dari orang-orang itu memilih pekerjaan ini bukan karena alasan ekonomi, tapi karena motivasi mereka untuk berbagi dengan orang lain.
Entah oleh karena faktor kebetulan atau sengaja, hanya ada sedikit tempat untuk pemberitaan pendidikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Berkat implementasi otonomi daerah, beberapa kabupaten yang kaya seperti Kutai Kertanegara di Kalimantan Timur dan Jakarta telah menaikkan gaji guru. Kutai bahkan telah menyediakan sepeda motor untuk para guru dan pinjaman bunga lunak untuk membeli rumah. Penghargaan yang lebih baik berpengaruh positif. Laporan tentang guru yang absen dari sekolah-sekolah telah berkurang dan para guru lebih berkomitmen pada pekerjaan mereka, sebagian karena kawatir kehilangan pekerjaanya. Dalam sisi yang lain, sekarang juga lebih mudah bagi para kepala sekolah untuk meningkatkan disiplin.
Tentu saja menaikkan gaji bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Para guru perlu pelatihan dan pendidikan serta bangunan sekolah yang lebih baik. Manajemen sekolah dari semua tingkat pendidikan – sekolah-sekolah, kantor pendidikan di kecamatan dan kabupaten – perlu berubah dan kurikulumnya juga perlu ditinjau kembali. Prestasi yang fenomenal dari para murid SMP dan SMA di kabupaten-kabupaten di pulau Java pada ujian nasional juga merupakan tanda yang membesarkan hati.
|