Menyisihkan Laba buat Pendidikan Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Friday, 25 May 2007

Jakarta (Gatra: (24/05/07) Tidak mampu itu bukan berarti miskin. “Bisa saja orang punya mobil, tapi kalau mau melanjutkan kuliah  di Harvard University belum tentu mampu,” kata Hendri B. Satrio, Humans Sampoerna Foundation. "Biaya Kuliah di Harvard sampai lulus sekitar Rp 1 milyar,” ia menambahkan. Kalau Anda ingin mendapat beasiswa, Sampoerna Foundation mematok tiga syarat utama. “Warga negara Indonesia, memiliki prestasi akademik yang bagus, dan tidak mampu membiayai sekolah yang dimaui," ujar Hendri. "Silahkan mengajukan permohonan, nanti akan kami proses layak dan tidaknya mendapat beasiswa," katanya. 

Beasiswa diberikan kepada mahasiswa  S1 dan S-2, baik universitas di dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, juga disalurkan ke siswa SD, SMP, dan SMA. Siswa SD mendapat Rp 30.000 per bulan, SMP Rp45.000, dan SMA Rp60.000." Untuk yang kuliah berbeda-beda, tergantung beban yang dberikan universitasnya," kata Hendri. Untuk mahasiswa S-2, selain biaya kuliah, juga diberikan tunjangan hidup, biaya les, dan dipinjami laptop. Sampai  saat ini, Sampoerna Foundation telah memberikan beasiswa ke lebih dari 25.000 orang, dari SD hingga S2. Untuk, jenjang S1 dan S2. sudah ada 111  mahasiswa yang lulus, dan di tingkat SMA ada 4,704 alumni. Beasiswa juga diberikan kepada calon guru. "Per tahun kami berikan untuk 20 orang," tutur Hendri.

Sejak tahun 2005, Sampoerna Foundation menyelenggarakan  program perbaikan kualitas  pendidikan. Antara lain Sampoerna Foundation United Schools Program (SF-USP). Tujuannya, memperbaiki Kualitas SMA di Indonesia. SF-USP telah mengadopsi 14 sekolah di Sumatra, Jawa, Kalimantan Aceh dan Bali sampai Juli 2006. Pada 2006, dibuka Sampoerna Foundation Teacher Institute, semacam kursus untuk meningkatkan kualitas guru di Indonesia. Selain itu juga ada sekolah bisnis Sampoerna School of Business and Management - ITB yang merupakan kerja sama Sampoerna Foundation dengan ITB.

Sampoerna Foundation didirikan pada 1 Maret 2001 atas inisiatif Putera Sampoerna. Ketika itu, Putera  menjabat   sebagai Presiden Komisaris PT M Sampoerna Tbk. Manajemen Sampoerna setiap tahun memotong 2% dari laba bersih utuk yayasan. Saking kentalnya hubungan Sampoerna Foundation dengan PT HM Sampoema Tbk, orang beranggapan bahwa Sampoerna Foundation  adalah bagian dari PT HM SampoernaTbk, "Sebenarnya independen," kata Hendri.

Sebagai wujud independensi itu, sejak 2004 Sampoerna Foundation tak  lagi  hanya mendapat sokongan dana dari PT HM Sampoerna. Sokongan dana, antara lain, juga berasal dari Bank Indonesia, Credit Suisse, Deutsche Bank dan ExxonMobil. Juga dari Freeman Foundation, The United State Indonesia Society, dan International Finance Corporation. Serta bantuan dari Lien Aid dan Schlumberger.

PT Astra International pun memberikan bea- siswa melalui Yayasan Toyota Astra (YTA), Yayasan Astra - Honda, dan Yayasan Bina Ilmu. Beasiswa itu disalurkan kepada siswa SD, SMP, SMA, serta mahasiswa S1 dan S 2. "Beasiswa untuk mahasiswa disalurkan melalui universitas di seluruh Indonesia. Sedangkan untuk pelajar terbatas," kata Aminuddin, Corporate Secretary Astra.

Pada 2006, YTA menyalurkan beasiswa kepada 35.342 pelajar dan 10.400 mahasiswa dari sekltar 70 universitas di seluruh Indonesia. Setiap tahun. jumlah dana yang disalurkan sebanyak Rp 6 milyar hingga Rp 7,5 milyar. Tak hanya melalui yayasan, beasiswa juga diberikan melalui  Koperasi Astra International kepada 693 pelajar SD, SMP dan SMA yang besarnya Rp 778,2 juta untuk tahun lalu. 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >