Hari Libur Harus Buka. Perpustakaan Tumbuhkan Minat Baca Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Thursday, 31 May 2007

Jakarta (Media Indonesia: (31/05/07) Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pengelola perpustakaan untuk tidak mengelola perpustakaan seperti kantor yang buka pada pagi dan tutup di sore hari serta hari libur."Kalau perpustakaan seperti itu, apa bedanya dengan kantor camat?" ujarnya ketika meluncurkan perpustakaan elektronik keliling (Pusteling) milik Perpustakaan Nasional, di Jakarta, kemarin. 

Di sela pidatonya dalam acara yang dihadiri Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, dan sejumlah pejabat lainnya itu Wapres sempat menanyakan apakah Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka Selatan sudah buka pada hari libur. "Rencananya begitu, Pak," jawab Kepala Perpustakaan Nasional Dady P Rachmananta. "Itu berarti belum," tukas Kalla.

Wapres meminta agar perpustakaan dibuat semenarik mungkin seperti mal. Ada event dan lomba-lomba anak-anak, sehingga menarik orang mengunjungi pustaka. Bila perpustakaan tutup pada Sabtu dan Minggu, lanjut Kalla, masyarakat tak ada waktu untuk ke perpustakaan. "Bila buka di hari libur bahkan sampai malam, orang akan ada waktu untuk membaca dan meneliti. Intinya jangan samakan dengan kantor camat atau kantor gubernur dan kantor wapres yang bertetangga dengan perpustakaan ini. Jadikan RT kita ini lebih baik," ujar Wapres, disambut tawa hadirin.

Wapres juga mengatakan buku adalah guru yang tidak pernah penat dan protes. "Mau dibaca, diduduki, dibawa tidur, dibaca 24 jam, di mana saja tidak ada masalah. Buku adalah modal utama bagi kita semua," ujarnya.

Penghargaan

Pada kesempatan tersebut, Media Indonesia bersama dua media cetak lainnya, masing-masing Republika dan Kompas mendapat penghargaan Citra Darma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI. Penghargaan tersebut diserahkan Kepala Perpustakaan Nasional Dady P Rachmananta disaksikan Wakil Presiden. Pemberian penghargaan tersebut, dalam rangkaian peringatan ke-27 ulang tahun Perpustakaan Nasional yang berdiri pada 17 Mei 1980 itu. Media cetak yang mendapat penghargaan ini, dinilai aktif mempromosikan perpustakaan dan membangkitkan minat baca masyarakat," kata Dady.

Dari kategori jurnalis, wartawan Media Indonesia Amiruddin Zuhri juga mendapat penghargaan serupa, atas tulisan-tulisannya yang selama ini tentang perpustakaan dan minat baca. Bersama wartawan yang bertugas di Yogyakarta itu, penghargaan yang sama juga diberikan kepada Burhanuddin Bella (Republika) dan Indira Permanasari (Kompas). Penghargaan tersebut langsung diterima Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia Djadjat Sudradjat dan Sekretaris Redaksi Moment Sembiring yang mewakili Amiruddin.Selain kepada media massa, Perpustakaan Nasional juga memberi penghargaan Nugra Jasadarma Pustaloka kepada tokoh yang berkontribusi bagi pengembangan perpustakaan dan minat baca.

Mereka adalah Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan, Gubernur Riau Rusli Zainal, Wali Kota Makassar Ilham Arief Siradjuddin, Wali Kota Malang Peni Suparto, Pimpinan Perpustakaan Prof Dr Doddy A Tisna Amidjaja Bandung, Dien Sardinah dan penulis Gola Gong dari Rumah Dunia, Serang, Banten. Penghargaan lainnya, juga diberikan kepada penerbit seperti Serambi Ilmu Semesta, PT Bina Media Tenggara, LIPI Press, dan Gema Nada Pertiwi. Juga memperoleh penghargaan Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Departemen Dalam Negeri dan Badan Penasihat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Departemen Agama. 

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >