Sekolah Gratis di Kabupaten Musi Banyuasin Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Tuesday, 12 June 2007

Jakarta (Media Indonesia: (11/06/07) SEANDAINYA seluruh daerah di tanah air berkomitmen seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Banyuasin (Muba), mungkin tidak ada lagi terdengar berita seorang siswa bunuh diri gara-gara tidak mampu membayar uang sekolah. Pasalnya dalam lima tahun terakhir ini, para orang tua di kabupaten terluas di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) itu tidak dipusingkan lagi memikirkan biaya sekolah anak mereka. Mulai dari TK, SMP hingga SMA baik negeri maupun swasta, termasuk sekolah berbasis agama Islam, semuanya gratis. Jadi, anak-anak usia sekolah di daerah kaya minyak dan gas (migas) di Sumsel itu, dijamin dapat mengantongi ijazah SMA. Soalnya, Pemkab Muba telah menerapkan wajib belajar 12 tahun.



''Sebenarnya, sekolah gratis itu merupakan hal biasa-biasa saja. Semua bupati bisa melakukannya, asalkan memang benar-benar ada komitmen untuk itu. Jadi, bukan soal daerah itu kaya atau miskin, Sebab, daerah miskin seperti Jembrana di Bali juga bisa menerapkan sekolah gratis,'' ujar Bupati Muba Alex Noerdin kepada Media Indonesia beberapa waktu lalu. Menurut Alex, ide kebijakan sekolah gratis sudah mencuat sejak lima tahun lalu. Waktu itu, ia menyadari penduduknya yang berjumlah 473.795 jiwa (sekitar 30%) masih tergolong keluarga miskin. ''Saya berupaya keras mengurangi beban hidup masyarakat dengan sekolah gratis ini. Jadi, satu beban hidup warga sudah lepas, tinggal bagaimana meningkatkan kesejahteraan mereka ke depan,'' ujarnya.

Alex mengatakan, sejak 2002, setiap tahunnya Pemkab Muba sudah mengalokasikan dana pendidikan di atas 20%. Dari APBD 2002 sebesar Rp655,3 miliar, alokasi untuk sektor pendidikan mencapai Rp131,2 miliar atau 20,01%. Anggaran tersebut meningkat pada 2003 menjadi 21,81%, yakni mencapai Rp 139,3 miliar dari APBD Rp638,9 miliar. Dan pada 2006, angka itu meningkat lagi menjadi 26,02%, yakni Rp327,2 miliar dari APBD senilai Rp1,3 triliun. ''Untuk tahun ini (2007) memang turun jadi 21,74 %, tapi nilainya meningkat menjadi Rp 345,6 miliar dari APBD 2007 Rp 1,5 triliun,'' ujar Alex lagi.

Lebih lanjut, Alex menampik adanya anggapan bahwa sekolah gratis mutunya rendah. Ia memaparkan bukti nyata bahwa empat tahun lalu lulusan SMA di Muba tidak ada yang diterima di perguruan tinggi favorit di tanah air ini. Tetapi sekarang ini, 60 siswa lulusan SMA Negeri 2 Unggulan Sekayu bisa diterima di ITB, UI, dan Unsri tanpa tes. ''Selebihnya masuk perguruan tinggi di luar Sumsel,'' tambahnya bangga. Saat ini, jumlah murid di Muba mencapai 119.667 orang, yang semuanya dibiayai pemerintah. Di kota Sekayu, ibu kota Kabupaten Muba, SMA Negeri 2 Unggulan dididik tenaga-tenaga guru atas kerja sama dengan Bank Dunia, Unesco, Sampoerna Foundation, British Council, dan International Development Partner (IDP).

Alex menambahkan, selain sekolah gratis, kesejahteraan guru harus ditingkatkan. Sebab, kunci sukses pendidikan, menurutnya, tergantung pada kualitas dan kesejahteraan guru-gurunya. Ia menjelaskan, para guru di daerah tersebut diwajibkan ikut kuliah. Sebanyak 1.800 orang guru dari 7.000 guru sudah dikuliahkan di Universitas Terbuka untuk jenjang D-2 dan S-1. Kemudian, untuk kesejahteraan, guru diberikan uang makan Rp6.000 per orang per hari, transportasi di daerah terpencil Rp250 ribu per orang per bulan, uang transportasi, akomodasi, konsumsi bagi guru di SMA Unggulan Rp500 ribu per orang per bulan dan bantuan sepeda motor.''Semua itu di luar gaji mereka dan honor,'' tambahnya.

Hingga sekarang, lanjutnya, jumlah guru PNS sebanyak 3.310 orang, guru bantu pusat 692 orang, guru bantu daerah 412 orang dan guru honor sebanyak 3.602 orang. Bagi Alex, pendidikan memang merupakan prioritas pembangunan di Muba. Ia berpendapat, majunya pembangunan tidak akan lepas dari kualitas sumber daya manusianya. Karena pendidikan itu mahal, Pemkab Muba menggratiskan biaya sekolah agar semua warga di daerah itu bisa tamat SMA.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >