Yogya Jadi Ajang Gerakan Gemar Menulis Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Friday, 15 June 2007

Kedaulatan Rakyat (14/06/07): Yogyakarta bersama 5 kota besar lain di Indonesia akan menjadi ajang gerakan gemar menulis, kegiatan diselenggarakan Sampoerna Foundation (SF) melalui Sampoerna Foundation Scholars Club (SFSC) bekerjasama dengan komunitas penulis Ubud Writers & Readers Festival. Di Yogya, kegiatan bertajuk Creating Future Writers (CFW) akan dilaksanakan pada 18-19 Juni mendatang. Selain Yogyakarta, ke-5 kota lain ialah Jakarta (12-13/6), Banda Aceh (15-16/6), Surabaya (18-19/6), Bandung (21-22/6), dan Semarang (25-26/6).

Direktur Komunikasi SF, Sapto H Sakti kepada KR, Rabu (13/6) di sekretariat SFSC Jl Kaliurang Km 5 mengemukakan pelatihan di masing-masing kota akan melibatkan sekitar 100 siswa. Pelatihan menulis ini menurutnya juga akan melibatkan penulis-penulis ternama Indonesia seperti AS. Laksana, Budi Darma, Azhari, Reza Idria, Gunawan Maryanto, Anton Kurnia, dan penulis-penulis lain. "Pelatihan ini juga akan melibatkan Agung Sentausa (sutradara film Garasi) untuk memberikan pelatihan penulisan skrip film," tambahnya.

Pelatihan yang menjadi kegiatan bakti sosial para penerima beasiswa SF, para peserta akan diajak untuk membaca berbagai karya penulis Indonesia dan kemudian berlatih menulis naratif, fiksi, dan juga skenario film. "Diharapkan, setelah pelatihan ini, mereka akan dapat menuangkan hasil pemikirannya, sehingga kreatifitas generasi muda Indonesia di seluruh daerah terus berkembang," ujarnya. Disebutkan, para penulis dan pelatih yang terlibat dalam pelatihan ini adalah orang-orang yang sangat peduli terhadap perkembangan kreatifitas di seluruh Indonesia.

Sapto menyatakan kegiatan membaca dan menulis seringkali diabaikan oleh banyak pihak karena dianggap tidak memiliki peran yang strategis untuk peningkatan kualitas pendidikan formal."Membaca dan menulis sebenarnya merupakan bekal yang sangat berharga untuk masa depan. Dengan menulis, kita akan terbiasa mengekspresikan kemampuan berpikir dan menganalisa sehingga pemikiran kita dalam dunia bisnis, sosial, ekonomi, dan yang lain-lain dapat terimplementasi dengan baik," ujar Sapto.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari di masing-masing kota ini diselenggarakan sebagai bentuk kegiatan sosial para penerima beasiswa SF untuk jenjang S1 dan S2. Mereka tergabung dalam SFSC dan aktif menyelenggarakan kegiatan sosial setiap tiga bulan. "Penerima beasiswa SF tidak bisa hanya pintar dan tidak mampu. Mereka juga harus peduli pada perkembangan pendidikan di tempat mereka menuntut ilmu.

Berkaitan dengan CFW, agar dampak acara ini nyata bagi masyarakat, maka tugas berikutnya dari SFSC adalah munculnya klub-klub baca dan tulis di kota-kota mereka, sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas pendidikan di daerah tersebut," ujar Sapto.(Fsy)-x

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >