‘Lab School’ Unsyiah berawal dari Mimpi Jadi Kenyataan Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Wednesday, 01 August 2007

Jakarta  (Pelita: (31/07/07) Kepala Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi NAD Nias Kuntoro Mangkusubroto, Rektor Unsyiah-Darni M Daud, dan Ketua Bersama United States Indonesia Society (Usindo) Edward Masters dan Arifin Siregar secara resmi membuka Lab School Unsyiah merupakan sebuah mimpi yang kini menjadi kenyataan. "Lab School merupakan bagian dari proses pembangunan dan demokratisasi Aceh yang akan menghasilkan pendidikan yang bermutu tinggi di seluruh Aceh," kata Darni dalam siaran persnya yang dikirimkan kepada Pelita di Jakarta.

Darni menjelaskan Lab School merupakan proyek kerjasama Unsyiah, Usindo dan Sampoerna Foundation ini akan mendidik generasi baru Aceh untuk berpikir secara kritis, pemecahan masalah melalui riset, menanamkan kebiasaan menulis, meningkatkan keahlian berkomputer serta pelatihan bahasa Inggris.Sekolah itu sendiri dirancang untuk membantu perkembangan metode pengajaran baru. Sekolah ini bekerjasama dengan Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Unsyiah dan menjadi tempat pelatihan guru generasi baru yang akan meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Aceh.

SMA Lab School yang dirancang oleh tim arsitek Unsyah ini terdiri atas 9 ruangan kelas yang mampu menampung 270 siswa. Sekolah ini juga dilengkapi dengan laboratorium fisika, biologi, bahasa, komputer, perpustakaan dan aula.Untuk tahun pertama, tahun 2007/2008, sekolah ini telah menseleksi 620 calon siswa dan akhirnya meloloskan 90 siswa untuk menjadi siswa kelas 11 angkatan pertarna sekolah yang diharapkan dapat menjadi sekolah percontohan bagi sekolah-sekolah lainnya yang ada di Aceh. Sedangkan pengelolaan SMA Lab School Unsyiah ini akan dilakukan oleh Yayasan Lab School Unsyiah.

Lebih lanjut Darni mengatakan sekolah yang didirikan di atas tanah Unsyiah ini menurut rencana akan diisi siswa-siswa yang 60 persen akan berasal dari lingkungan sekitar sekolah Kecamatan Syah Kuala. Selain itu ditengarai sekitar Rp2,7 miliar dari total biaya pembangunan berasal dari donasi anak-anak sekolah di Amerika Serikat yang mendapatkan uang dengan cara menjual roti bakar dan mencuci mobil.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >