Login Form
| Editorial: Pendidikan Bermutu |
|
|
|
| Thursday, 23 August 2007 | ||||
Halaman 1 dari 2 Jakarta (The Jakarta Post: (22/08/07) "Kita menginginkan anak-anak kita bisa mendapatkan manfaat dari pendidikan bermutu,” kata President Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya pada peringatan Hari Kemerdekaan minggu lalu. Untuk mencapainya, kata Presiden, pendidikan akan mendapatkan alokasi anggaran yang terbesar. Kita tentunya sependapat dengan harapan presiden. Kita semua menginginkan agar anak-anak kita memperoleh pendidikan yang bermutu, yang terbaik dari yang ada. Tetapi kenyataan seringlah lain. Bagi kita yang tinggal di kota-kota besar dan mampu menjangkau pendidikan yang bagus, kita punya banyak pilihan, dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Kita punya sekolah taman kanak-kanak dengan model barat, yang dilengkapi dengan bahasa Inggris sebagai media pengajarannya, sekolah internasional dan nasional plus, serta perguruan tinggi dengan standar internasional. Bagi kita, mutu adalah nomer satu. Akan tetapi, bagi mereka yang tinggal di desa-desa kecil di negeri ini, serta bagi mereka yang kurang mampu, bahkan pendidikan dasar sekalipun, sekolah-sekolah yang baik sungguh jauh dari bayangan. Sekolah dasar di Papua, sebagai misal, sering hanya mempunyai satu guru di tiap sekolah – yang sekaligus adalah kepala sekolahnya. Bagi mereka, mutu bukanlah hal yang penting. Jika mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka, itu sudahlah cukup. Dari sini, kita bisa melihat bahwa kualitas akan berkembang seiring dengan permintaan yang meningkat. Akan ada lebih banyak lagi sekolah plus dan perguruan tinggi dengan standar internasional yang akan dibangun ketika permintaan untuk sekolah-sekolah semacam itu terus meningkat. Akan tetapi, meningkatkan permintaan bukanlah hal yang mudah, karena hal itu langsung terkait dengan daya beli, dan untuk menumbuhkan daya beli itu sungguh perlu waktu. Sementara itu, orang-orang tidak bisa menunggu. Jadi inilah tugas dari pemerintah, untuk meningkatkan kualitas dari sisi suplai. Pemerintah telah melaksanakan tugasnya dengan memberikan alokasi tertinggi untuk sektor pendidikan. Presiden mengungkapkan bahwa sektor pendidikan akan mendapattan alokasi sebesar Rp61.4 trilyun (US$6,7 milyar), meningkat dari Rp52,4 trilyun tahun lalu, tetapi beliau tidak menjelaskan secara gamblang tentang bagaimana uang itu akan dipergunakan untuk pendidikan yang bermutu. Beliau hanya menjanjikan untuk meneruskan program bantuan operasional sekolah dan beasiswa untuk murid-murid yang tidak mampu, serta melanjutkan dana alokasi khusus untuk pemerintah-pemerintah daerah guna memperbaiki sekolah-sekolah dan membeli perlengkapan pendidikan. Tentunya, kita tidak mengharapkan presiden untuk menjelaskan secara detail tentang bagaimana penggunaannya dalam usaha meningkatkan kualitas dari sistem pendidikan kita. Tetapi, setidaknya presiden harus membagikan pandangannya tentang pendidikan bermutu macam apa yang ingin beliau lihat pada akhir tahun depan atau pada akhir masa kerjanya di tahun 2009. Anggaran adalah alat yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hanya dengan adanya anggaran, pemerintah mampu menaikkan gaji guru, membiayai pelatihan untuk para guru dan juga mengembangkan kualitas mereka, menyediakan buku-buku teks yang lebih baik bagi para murid serta untuk membangun gedung sekolah yang lebih serba guna – yang kesemuanya adalah faktor penting dalam peningkatan mutu. |
||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




