Login Form
| Beasiswa Bawa Anak Miskin ke Sekolah |
|
|
|
| Tuesday, 11 September 2007 | |
|
Jakarta (The Jakarta Post: (07/09/07) Walaupun Arinda dan Cheza dari keluaga miskin, mereka masih punya cita-cita yang tinggi. Kedua gadis berumur 10 tahun itu ingin menjadi dokter ketika dewasa nanti.“Saya ingin menjadi dokter karena saya senang bisa membantu orang lain,” kata Arinda, murid kelas 5 di sebuah sekolah negeri di Tangerang, Banten, yang selalu menjadi juara kelas hampir tiap tahunnya sejak kelas satu. Cheza, yang juara ke-dua di kelas lima di sekolah negeri lain di Tangerang, mempunyai alasan yang sama dengan Arinda. “Saya ingin menjadi dokter karena suka menolong orang lain.” Bagi anak-anak yang orang tuanya tidak mempunyai pekerjaan tetap, keinginan untuk menjadi dokter kelihatnya tidak mungkin. Tetapi prestasi hasil akademik yang istimewa telah mengantar keduanya mendapatkan beasiswa yang akan memampukan mereka untuk terus bersekolah. Sejak tahun lalu, ke dua siswi itu, bersama dengan 20 murid SD lainnya, telah menerima beasiswa dari Sampoerna Foundation dan Grand Melia Hotel di Jakarta Selatan, yang telah mengumpulkan sekitar Rp24 juta (US$2.580) untuk mendukung pendidikan mereka. Grand Melia menyelenggaran program “A Dollar for Scholars” untuk mengumpulkan dana dari tamu yang menginap di hotel. Ini telah berlangsung dari Agustus tahun lalu sampai dengan awal tahun ini dengan mengajak para tamu berdema satu dolar untuk bantuan pendidikan. Program beasiswa ini juga didukung oleh pelukis Suprobo, yang menyumbangkan sejumlah uang dari hasil penjualan lukisannya pada pameran di hotel ini tahun lalu. Uang yang dikumpulkan di hotel itu kemudian salurkan oleh Sampoerna Foundation pada 22 murid dari 6 sekolah negeri di Tangerang. Sejak tahun lalu, setiap siswa telah menerima Rp30.000 rupiah per-bulan untuk membayar uang sekolah mereka. Mereka akan terus menerima beasiswa ini sampai mereka lulus sekolah dasar nanti jika mampu mempertahankan prestasi akademik mereka yang istimewa. “Saya menggunakan beasiswa saya untuk membeli buku-buku pelajaran dan untuk membayar biaya kursus komputer saya yang Rp10.000 per bulan,” kata Arinda, yang juga mendapatkan beasiswa dari pemerintah Tangerang. Dia hampir saja putus sekolah tahun lalu karena orang tuanya tidak mampu membeli buku-buku pelajaran yang harganya sekitar Rp300 ribu. Walaupun murid sekolah dasar negeri tidak harus membayar biaya sekolah, tetapi mereka tetap harus mengeluarkan uang untuk pelajaran tambahan dan buku pelajaran. Ditanya mengenai perasaannya setalah menerima beasiswa, Arinda tersenyum merekah, “Saya bersyukur karena saya punya uang untuk membeli buku dan membayar kursus komputer.” Menurut data dari kementrian pendidikan, ada sekitar 40 juta siswa putus sekolah pada tahun 2005 dan 2006 oleh karena alasan keuangan. |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




