Login Form
| Orphan's story a role model for the young |
|
|
|
| Wednesday, 12 September 2007 | |
|
Jakarta (The Jakarta Post: (11/09/07) Generasi muda mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi mereka semaksimal mungkin pada era sekarang ini dibandingkan dengan pendahulu-pendahulu mereka, kata seorang pengusaha muda dan seorang pengarang yang produktif. Pengarang Ayu Utami mengatakan bahwa orang muda seperti pohon yang sehat. Jika pohon itu dipindahkan dan lalu ditanam lagi ditempat lain, pohon itu akan tetap mampu bertahan hidup, kata Ayu, yang salah satu bukunya berjudul “Saman” mendapatkan predikat sebagai “book of the year” oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998 dan memenangkan piagam Prince Claus pada tahun 2000. “Dahan pohon yang sudah tua akan layu dan akhirnya mati, tetapi tunas muda akan tumbuh dan menggantikannya,” katanya. Ayu dan pengusaha Yoris Sebastian berbicara pada acara peluncuran buku “The Sampoerna Legacy” yang diterbitkan oleh Putera Sampoerna Foundation di toko buku Aksara di Kemang, Jakarta Selatan pada hari Minggu. Buku The Sampoerna Legacy mengupas tentang sejarah empat generasi China-Indonesia keluarga Sampoerna. Nama Sampoerna telah diidentikan dengan industri rokok di negeri ini, sejak di luncurkannya rokok kretek Dji Sam Soe pada tahun 1913 oleh Liem Seng Tee.Buku ini terpusat pada cerita tentang Liem, yatim piatu muda yang berimigrasi dari China pada awal tahun 1900-an untuk mengadu keberuntungan di luar negeri. Yoris mengatakan, “Pendiri Sampoerna ulet dalam usahanya. Kaum muda sekarang ini haruslah mampu mengadopsi keinginan semacam ini sebagai professional. Bekerja seharusnya tidak semata-mata demi uang.“Saya tidak sadar akan keinginan saya pada awal karir saya. Sehingga, saya hanya ikut arus dan mengerjakan apa yang saya suka, seperti fotografi, menulis dan bermain musik. Tentu saja, kadang-kadang kita masih perlu untuk kompromi… kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan secara langsung.” Pimpinan staff pelaksana di House of Sampoerna, Albert Wibisono, mengatakan bahwa Liem telah menjadi yatim piatu sejak usia 6 tahun. Dia datang ke Indonesia sendirian dan belajar bertahan dengan apa yang ia punyai. “Jika seorang yatim piatu seperti Liem bisa mendirikan perusahaan sebesar Sampoerna, kenapa anak-anak muda dengan segala fasilitas istimewa seperti sekarang ini tidak bisa melakukan hal yang sama?” Yoris mengingatkan para generasi muda untuk berpegang pada prinsip Liem “menang-menang-menang” Ini berarti sewaktu mendirikan bisnis, kita tidak hanya berpikir tentang diri kita sendiri, tetapi juga memberikan perhatian pada apa yang baik bagi sekeliling kita, atau pada ekosistem disekitar bisnis.” Buku yang cemerlang ini dapat diperoleh di toko-toko buku terkemuka dan semua hasil penjualannya nanti akan didonasikan bagi program pengembangan pendidikan di yayasan, termasuk beasiswa bagi sekolah tingkat dasar sampai ke mahasiswa program pasca sarjana, serta untuk program pengembangan kapasitas bagi para guru. Putera Sampoerna Foundation saat ini telah memberikan lebih dari 25,000 beasiswa bagi murid-murid sekolah dasar sampai dengan tingkat pasca sarjana. Sejauh ini, beasiswa ini telah menghasilkan 135 lulusan universitas dan 9.427 lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah. |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




