|
Halaman 1 dari 2 Jakarta (SWA: (12/09/07) Per 1 Agustus 2007, Lin Che Wei yang sebelumnya menduduki jabatan Presdir PT Danareksa (Persero) berganti baju menjadi orang yayasan. Saat muncul di depan publik bersama peraih hadiah Nobel Perdamaian, M. Yunus, dalam acara yang digelar Sampoerna Foundation (SF), 10 Agustus lalu, dia bukan peserta biasa, melainkan sebagai CEO SF.
Jelas, keberadaannya di SF menimbulkan pertanyaan: apa yang membuatnya berpindah profesi dari CEO BUMN menjadi CEO sebuah yayasan? "Pak Putera (Sampoerna) menawarkan pekerjaan ini kepada saya dua jam setelah pengunduran diri saya diterima (Menneg BUMN Sofyan Djalil)," ungkap pria kelahiran Bandung, 1 Desember 1968 ini. Di kantor barunya, Gedung Sampoerna Strategic Square, Jakarta, 29 Agustus lalu, dia pun membeberkan alasannya kepada Redaktur SWA, Firdanianty. Berikut ini petikannya: Kapan mulai tertarik pada bidang pendidikan? Tahun 2005 saya bertemu Lee Kuan Yew saat berkunjung ke Indonesia. Saya bertanya, "Mr. Lee, apa yang harus dilakukan generasi muda untuk menyelesaikan masalah bangsa?" Menurutnya, ketika Singapura mulai membangun negerinya pada 1965, jumlah orang pintar di sana sangat sedikit. Yang dilakukan Lee adalah meletakkan dasar untuk mencetak orang-orang terbaik. Sekarang, kita bisa lihat hasilnya. Ini bukti bahwa pendidikan adalah Investasi terbaik. Sebagai CEO di sebuah yayasan, hal apa yang menarik? Banyak orang berpikir yayasan adalah organisasi nonprofit. Menurut saya, yayasan juga memberi return. Hanya saja, bentuknya bukan financial return, melainkan social return. Untuk mencapai itu, kita harus fokus pada tiga hal. Pertama, harus menyadari bahwa perusahaan memiliki limited resources. Jadi, dana yang ada harus bisa dialokasikan ke area yang memberi social return yang relatif tinggi. Kedua, mempunyai impact luas. Ketiga, yang terpenting adalah sustainability-nya. Sejauh ini, sebagian besar orang melakukannya atas dasar karitas saja. Buat saya, apa yang saya lakukan harus jelas benchmark-nya dan hasilnya pun bisa diukur. Ini seperti yang dilakukan Lee Kuan Yew ketika membangun SDM Singapura. Hal-hal barn yang Anda temukan di SF? Banyak yang interesting-lah.... Education is very sexy (tawanya berderai). Sejak dulu pun saya senang mengajar, menjadi dosen tamu di beberapa universitas. Berbicara tentang pendidikan, Bering kita hanya merasa kasihan bila melihat atau mendengar orang yang tidak bisa melanjutkan sekolah. Akan tetapi, kita jarang sekali mencari penyebab masalahnya. Buat SF, banyak hal bisa dilakukan untuk membantu mengatasi persoalan tersebut. Yang mendorong Anda ke SF? Simpel saja. Saya ingin mencari pekerjaan di mana saya bisa menggunakan kemampuan memberi kepada orang lain dan mencetak pemimpin-pemimpin mass depan. Dengan mengalokasikan limited resources yang kami punya, saya berharap bisa membantu orang lain -yang membutuhkan. Target utama Anda? Sangat jelas. Saya ingin SF menjadi organisasi filantropi yang profesional di bidang pendidikan. Tugas yang kami emban adalah mencetak future leader di Republik Indonesia. Untuk itu, kami berupaya menekankan perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Fokus kami adalah peningkatan kualitas guru, perbaikan struktur dan infrastruktur pendidikan, serta peningkatan kedisiplinan.
|