Serba Minim di SD Inpres Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Tuesday, 02 October 2007

Jakarta (Jurnal Nasional: (01/10/07) MINIMNYA infrastruktur sekolah rupanya tak hanya terjadi di daerah Indonesia timur. Hal yang sama juga terjadi di sebuah komplek Sekolah Dasar (SD) di daerah Bukit Duri Tanjakan, Jakarta Selatan. Ada 6 SD di sana, yaitu 01, 09, 11, 02, 10, 12. Siswa harus bergantian belajar pagi dan sore karena hanya. ada 18 ruang kelas. Di lantai dua, terdapat rak buku yang ditempel di dinding dan itulah yang mereka sebut sebagai perpustakaan.

Suryanto, guru kelas V SD 10 Petang tak heran dengan kondisi tersebut. Selama 23 tahun menjadi guru, menurutnya fisik sekolah Inpres selalu standar. Selain kelas sebagai ruang belajar, hanya ada ruang kepala sekolah, ruang guru, dan kamar kecil."SD inpres biasanya tak ada perpustakaan, laboratorium, ataupun mushala," kata Suryanto yang beberapa bulan lalu mengadakan festival anak jalanan di Tugu Proklamasi, Jakarta. Minimnya fasilitas sekolah, tambah Suryanto, akan membuat proses pembelajaran tidak optimal. Soalnya, tak ada ruang untuk eksplorasi bahan ajar, berekspresi seni dan budaya. la menjelaskan bahwa sebagian besar siswa SD petang berasal dari keluarga kurang mampu. Keterbatasan ekonomi ditambah lagi keterbasan fasilitas sekolah membuat mereka tak mampu bersaing dengan murid sekolah lain. "Misalnya saja ada lomba komputer, mereka pasti sudah tak bisa ikut. Di rumah tak ada komputer, di sekolah juga. Lalu bagaimana mereka mau ikut lomba?," katanya.

Untuk mengakali minimnya fasilitas, pihak sekolah harus pandai-pandai mengajak organisasi nonpemerintah yang peduli dengan dunia pendidikan. Pada Jumat, 28/9, sekitar 130 sukarelawan dari Sampoerna Foundation dan Jak FM untuk membenahi komplek SD yang letaknya di gang kecil tersebut. Mereka membawa puluhan tong untuk dijadikan tong sampan, membuat rak buku untuk setiap kelas, memasang ring basket dan mengecat lapangan. Sedianya, mereka juga akan membangun perpustakaan, namun tak ada ruang lagi yang tersisa. Sebuah gerobak kayu pun disulap menjadi perpustakaan berjalan. Tentu saja dengan isinya."Perpus keliling rasanya lebih cocok. Selain dari kami, akan ada guru yang juga turut bertanggung jawab atas perpustakaan keliling ini," kata Henry B Satrio Humas Sampoerna Foundation.

Dalam membenahi sekolah tersebut, puluhan murid dan guru juga turut serta. Sri Mulyati siswi kelas VI SD 09 terlihat sedang melukis tong sampan. Devi dan Sintia, dua orang teman sekelasnya ikut membantu. "Tong kita sudah selesai di cat, ini bantuin punya Sri," kata keduanya. Baihaki, Kepala Sekolah SD 012 mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi murid. Memperbaiki fisik sekolah bersama-sama akan membuat mereka merasa memiliki sehingga akan menjaga fasilitas tersebut.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >