Login Form
| Guru ke Bali, Siswa Satu Sekolah Diliburkan |
|
|
|
| Monday, 29 October 2007 | |
|
Bekasi (Koran Tempo: (26/10/07) Dana operasional ke Bali berasal dari pungutan siswa atas nama rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Sekolah Menengah Pertama Negeri I Kota Bekasi meliburkan siswanya selama tiga hari pada Kamis-Sabtu (25-27 Oktober). Sebab, 80 orang guru dan pengawas sekolah itu pergi ke Bali untuk melakukan studi banding di SMPN I Denpasar. Berdasarkan pantauan Tempo kemarin, SMPN 1 Bekasi yang diliburkan itu terlihat lengang. Hanya ada dua anggota staf tata usaha di ruang kantor sekolah tersebut. Anggota Staf Tata Usaha SMPN I Kota Bekasi, Rusman, membenarkan bahwa 1.240 siswa di sekolah itu diliburkan karena para guru sedang melakukan studi banding ke Bali. "Mereka akan belajar kembali pada Senin (29 Oktober) mendatang," ujarnya. Menurut dia, studi banding itu merupakan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), yang mulai digagas di Kota Bekasi. "Bali dipilih karena kota itu sarat pendidikan luar negeri," kata Rusman. Studi peningkatan kompetensi di luar sekolah, kata dia, pernah dilakukan. Sehari sebelum para guru pergi ke Bali, 75 siswa dari 3 kelas internasional di SMP I ini diajak ke Taman Mini Indonesia Indah.Sejumlah orang tua murid mengeluhkan studi banding yang terkesan foya-foya. Salah seorang orang tua siswa yang tidak mau disebutkan identitasnya menduga dana operasional ke Bali berasal dari pungutan siswa atas nama rancangan anggaran pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS). Menurut dia, sekolah membebani setiap siswa kelas reguler uang RAPBS di atas Rp 2 juta per tahun dan masing-masing siswa kelas bertaraf internasional minimal Rp 5 juta per tahun. Iuran itu wajib dilunasi pada Desember 2007. "Seharusnya studi banding menggunakan dana dari APBD," ujar wali murid itu. Juru bicara Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Wasis Priyono, mengaku telah menerima laporan studi banding SMPN I Kota Bekasi ke Bali. Dia menilai program itu untuk kemajuan sekolah. "Agar guru atau tenaga pendidik tidak kuper (kurang pergaulan), tapi memiliki wawasan yang luas," katanya. Ditanya soal sumber dana studi banding yang diduga dari pungutan siswa dan anggaran dari dinas, Wasis mengatakan, "Selama hasilnya dirasakan siswa, tidak ada persoalan," ujarnya. Menurut Wasis, selama guru melakukan studi banding, para siswa tetap diberi tugas-tugas untuk dikerjakan di rumah. "Jadi, meski libur, mereka punya kegiatan belajar," ucapnya. Belajar secara mandiri adalah salah satu kurikulum tingkat satuan pendidikan. Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi, Wahyu Prihantono, mengatakan seharusnya setiap kegiatan dibicarakan dulu dengan wali murid dan dilaksanakan setelah ada kesepakatan. "Jika tak ada kesepakatan, dinas pendidikan harus mengambil tindakan tegas," ujar Wahyu yang menyesalkan studi banding para guru ke Bali itu dilaksanakan pada saat siswa baru saja libur panjang Lebaran. |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




