Login Form
| DARI SMAN 1 PUNDONG BANTUL, ‘Bergandengan’ Memperbaiki Kualitas Pendidikan |
|
|
|
| Thursday, 01 November 2007 | |||||
Halaman 1 dari 3 Bantul (Kedaulatan Rakyat: (28/10/07) RINI dan teman-temannya tampak asyik dengan penelitian uji larutan elektrik - non elektrik. Pelajar kelas XII tersebut ada yang sibuk dengan alat-alat, ada yang mencocokkan data, ada yang menulis. Mereka sedang menguji sifat menghantar arus listrik pelbagai senyawa dan larutan dengan alat. Sementara kelompok yang berbeda juga sedang melakukan praktikum untuk hal lain, dalam mata pelajaran kimia. Bahkan sempat terdengar ‘ledakan’ kecil yang disusul gelak tawa dan ucapan kaget di bagian lain di lab kimia tersebut. ementara di ruang lab yang berbeda, anak-anak terbagi dalam beberapa kelompok kecil tampak sedang sibuk dengan mikroskop-nya. Kelas yang sedang melakukan praktikum biologi ini, jauh lebih tenang dibanding lab kimia. Meski perilaku yang tampak,terasa sama. Ada yang bergantian dalam satu kelompok untuk menggunakan mikroskop dan kemudian menulis di catatannya. Semua tampak asyik dalam diam. Sementara di perpustakaan sekolah beberapa anak tampak sedang memilih buku-buku bacaan sesuai keinginan. Sekarang sebut pengelola perpustakaan Soempeno, setiap hari sekitar 80-an anak datang, membaca dan meminjam di perpustakaan. “Ini peningkatan luar biasa, dulu hanya 20-an anak sehari. Meski yang banyak dipinjam dan dibaca adalah buku-buku novel, buku praktis dan teknologi,” tambah Soempeno sambil menyebut bila koleksi sekolah sekitar 10 ribu eksemplar dengan sekitar 700-an judul. Bahkan untuk anak kelas XI juga ada kewajiban untuk membuat resensi dari buku yang dibacanya, minimal sebulan satu buku. Perubahan ini memang baru dilaksanakan. Paling tidak, pasca gempa salah satu sekolah di Kabupaten Bantul DIY ini dipilih untuk mengikuti program SF USP (Sampoerna Foundation United School Program) sejak 2006 silam. “Dengan program ini, kami para guru mendapatkan pelbagai macam pelatihan. Dan pelatihan yang kami terima sangat bermanfaat untuk mengajar. Kami mendapatkan tambahan pengalaman, skill dan juga metode. Sebagai guru, dalam penyampaian kami juga ada perubahan. Kita juga sudah ada perubahan kurikulum setelah pelatihan,” ucap Madiyono, guru bidang studi fisika yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Pundong yang menemani wartawan, suatu siang. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan ini sedikit banyak menurut Madiyono mengisi kekurangan-kekurangan para guru dalam proses belajar mengajar selama ini. |
|||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




