|
TEMPO, YOGYAKARTA - Pendidikan agama menjadi sorotan belakangan ini. Menurut staf pengajar Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Yogyakarta, Agus Nuryatno, jika pendidikan agama diajarkan secara eksklusif, doktriner, tanpa membuka ruang dialog, akan menghasilkan pribadi yang eksklusif dan kurang toleran. Karena itu, menurut dia, perlu dilakukan rekonstruksi pendidikan agama.
"Sekarang bagaimana merekonstruksi pendidikan agama sehingga dapat memberikan kontribusi dalam membangun dan mempertahankan masyarakat pluralistik demokratik," kata Agus dalam seminar "Membangun Wawasan Bhineka Tunggal Ika melalui Penanaman Nilai-nilai Agama" kemarin.
Selain Agus, pembicara lain dalam seminar itu adalah guru besar filsafat STF Driyarkara Franz Magnis-Suseno S.J., penulis dan sutradara Putu Wijaya, serta Ketua Taman Siswa Tyasno Sudarto.
Menurut Agus, sejauh ini pendidikan agama berkembang dalam dua arah yang berlawanan, yakni menciptakan individu yang religius dan humanis atau menciptakan individu yang religius tapi tidak humanis.
Ia menambahkan, pendidikan agama yang terbuka dan kritis akan sangat berguna bagi pembentukan relasi sosial yang toleran. Itu berimplikasi pada kualitas kehidupan sosial yang menghargai perbedaan dalam masyarakat majemuk.
Adapun Franz Magnis mengatakan agama seharusnya memperjelas, memperdalam, dan memperluas nilai dasar kemanusiaan. Menurut dia, nilai dasar kemanusiaan terbagi dalam dua bentuk, yakni nilai inti dan nilai jembatan. Nilai inti terlihat dalam kebaikan hati dan kesediaan untuk bersikap adil. Sementara itu, nilai jembatan berbentuk kejujuran dan kebijaksanaan. "Pendidikan agama harus diarahkan pada pembentukan nilai dasar kemanusiaan," kata Franz Magnis. |