Login Form
| Perguruan Tinggi, Cermin Globalisasi |
|
|
|
| Wednesday, 20 December 2006 | ||||
Halaman 1 dari 2 Jakarta (Kompas : 19/12/06) "A revolution is coming in the field of global education". Miniatur globalisasi Kini, hampir semua universitas mencari mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Presiden Yale University Richard Levin mencatat, jumlah mahasiswa yang meninggalkan kampung halaman untuk belajar ke luar negeri selama tiga dekade terakhir tumbuh rata-rata 3,9 persen per tahun, dari 800.000 orang (1975) menjadi 2,5 juta orang (2004). Universitas juga memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melawat ke negara lain. Tiap tahun, sedikitnya 140.000 mahasiswa dari Eropa mengikuti program pertukaran ke berbagai negara. Institusi pendidikan di AS berupaya menyiapkan mahasiswa untuk berkarier global dengan magang atau ikut pelatihan di negara lain. Kerja sama antaruniversitas, seperti program John Hopkins-Nanjing, program Duke-Goethe dan aliansi MIT-Singapore merupakan bukti interkoneksi dunia. AS berupaya menjaga reputasinya dengan menanam investasi dan mendukung riset universitas berbasis ilmu pengetahuan (iptek) terutama bidang kesehatan, pertanian, pertahanan, dan energi. AS pun konsisten memimpin dunia dalam komersialisasi teknologi baru seperti komputer, infrastruktur internet dan aplikasi perangkat lunak (software). Ini tak lepas dari kerja sama universitas dengan dunia industri seperti hadirnya lembah Silikon ciptaan Stanford University dan Route 128 Boston, hasil kolaborasi industri dengan MIT dan Harvard. Menurut data bidang pendidikan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) 2006, Perancis, Italia, Inggris, dan Jerman terus mengalami penurunan prestasi. Sebaliknya, negara-negara skandinavia, seperti Finlandia, Swedia, dan Norwegia, menduduki peringkat terbaik dalam investasi pendidikan maupun performa. |
||||
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|




