| Siswa penerima beasiswa berikan kembali untuk sekolah |
| Tuesday, 31 July 2007 | |
|
Bogor (The Jakarta Post: (28/07/07) Puluhan penerima beasiswa dari seluruh tanah air memutuskan untuk berbuat sesuatu pada dunia pendidikan, berkumpul dan meluangkan waktu, uang serta kemampuan mereka untuk merenovasi sebuah sekolah di Bogor minggu lalu. Para penerima beasiswa Sampoerna Foundation, semuanya ada 350 dari ringkat SMA hingga pasca-sarjana, membangun kelas tambahan di SDN Pasir Bagade di kecamatan Sukaraja. Sebelum renovasi, ke-160 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 di sekolah tersebut harus berbagai 3 ruang kelas tanpa jendela dan perabotan. Kepala sekolah Muhamad Yamin mengatakan bahwa sebelumnya kelas-kelas ini dibagi secara darurat dengan selembar kayu. "Sekolah ini belum pernah direnovasi secara besar – besaran sejak pertamakali dibangun pada tahun 1986," katanya. Muhamad mengatakan bahwa is amat gembira dengan bantuan dari Sampoerna Foundation untuk membangun dua ruang kelas dan dua kamar kecil. Sebelumnya, sekolah menerima bantuan dari Bank Indonesia untuk membangun sebuah ruang kelas dan satu kamar kecil. "Idealnya memang sekolah harus memiliki enam ruang kelas dan satu ruang kantor untuk para guru. Dan kini kami akan memdapatkan semua itu.” Renovasi sekolah ini merupakan bagian dari kegiatan tahunan para penerima beasiswa. Menurut data Depdiknas tahun 2004, 45 persen dari 270,000 bangunan sekolah di Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan Jawa Barat menduduki peringkat terburuk diantara semua propinsi di Indonesia. Bogor, hanya sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta merupakan bagian dari propinsi Jawa Barat. Eddy Henry, direktur hubungan alumni dan program SF mengatakan bahwa kegiatan reuni ini dimaksudkan untuk mengakrabkan para penerima beasiswa. “Kami ingin mereka bisa berbagi apa yang telah mereka dapatkan dengan pihak lain yang membutuhkan," kata Eddy. Menurutnya, program renovasi ini akan membentuk rasa memiliki di antara para penerima beasiswa, dan nantinya akan mendorong mereka untuk mengembalikan dan memelihara sekolah dalam kondisi yang baik. Saut Saragih, yang menerima beasiwa untuk sekolah di London Business School, mengatakan semua orang sudah mengetahui mengenai kondisi sekolah yang memprihatinkan. “Ini bukannya masyarakat tidak mau tahu mengenai kondisi sekolah; menurut saya hal ini disebabkan karena mereka tidak punya waktu untuk membantu.” Walaupun sebelumnya yayasan ini dibawah satu kepengurusan dengan perusahaan rokok yang memiliki nama yang sama, kini mereka sudah merupakan badan yang terpisah setelah merek rokok Sampoerna dijual pada perusahaan rokok Amerika Philip Morris. |