| Melihat Dengan "Mata Cacing" |
| Wednesday, 15 August 2007 | |
|
Jakarta (Jurnal Nasional: (15/08/07) Muhammad Yunus mengkritik kurangnya peran sistem pendidikan dalam mengatasi kemiskinan. Pendidikan yang benar adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih profesi yang kelak diinginkannya. Dengan kebebasan itu, anak akan memacu dirinya, untuk mencapai tujuannya. "Jadi, tujuan sekolah itu tergantung kepada si anak sendiri, bukan orang lain. Sukses tidaknya juga tergantung kepada si anak, " Muhammad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian 2006, dalam pertemuan dengan pengusaha dan tokoh masyarakat di Jakarta, pekan lalu. Dalam diskusi bertopik meningkatkan akses pendidikan dan keuangan melalui kemitraan tersebut, Yunus menyatakan, umumnya sistem pendidikan di dunia dan di Indonesia khususnya, terlalu membelenggu anak didik dengan rutinitas. Yang lebih parah adalah penerapan sistem itu tanpa dibarengi penanaman makna kebebasan, kreativitas dan kemandirian yang dibutuhkan ketika terjun ke masyarakat. Mereka terlalu dicekoki dengan teori, rumus-rumus, PR (pekerjaan rumah), ulangan, dan tugas-tugas lain yang membebani," ujarnya menguraikan. Oleh karena itu, Yunus menyarankan pendidikan seharusnya dibebaskan dari belenggu -belenggu yang membuat anak didik kehilangan kebebasan, kreativitas, dan kemandiriannya. Dengan sistem yang berlaku selama ini, otak anak - anak terforsir pada upaya - upaya menyelesaikan dengan pelbagai tugas yang hampir tiap hari diberikan guru tanpa sedikit pun diberi keleluasaan untuk mengembangkan kreativitas dan kemandirian. Kondisi ini masih ditambah dengan sikap orang tua yang memaksakan keinginannya. Pendidikan yang benar, demikian Yunus, adalah memberi peluang anak didik untuk bebas, kreatif, serta mandiri dalam menentukan tujuan hidupnya. Ini lebih penting ketimbang menjebak anak didik dengan rutinitas. Sementara itu, dalam bukunya, Banker to the poor, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul "Bank Kaum Miskin", Yunus mempunyai ide -ide revolusioner mengenai peranan pendidikan dalam mengatasi kemiskinan. Menurut dia, universitas - universitas yang ada saat ini menimbulkan kesenjangan yang sangat lebar antara mahasiswa dan kenyataan hidup sehari - hari. Yunus mengiaskannya, "saat Anda menggenggam dunia di tangan Anda dan mengamatinya dari atas laksana burung, Anda cenderung menjadi arogan. Anda tidak menyadari bahwa segala sesuatunya menjadi buram jika di pandang dari jarak yang sangat jauh." Oleh karena itu, Yunus memilih "pandangan mata cacing". Menurut dia bila mempelajari kemiskinan dari jarak dekat, seseorang kan memahaminya dengan lebih tajam. Sebaliknya, teori - teori ekonomi di ruang kelas tidak bermakna apabila berhadapan dengan kemiskina dan kelaparan yang sebenarnya. Pendangan mantan Dosen ekonomi Universitas Chittagong Bangladesh tersebut tak lepas dari keresahannya melihat kesenjangan antara teori yang diajarkannya dan realitas kemiskinan sehari - hari yang tampak menyolok di negaranya, Bangladesh. Keresahannya itu pula yang membuatnya keluar dari profesi dosennya dan belajar langsung dari masyarakat miskin pedesaan. Akses Pendidikan dan Pembiayaan Dari pembelajaran langsung di tengah - tengah kemiskinan itu, Muhammad Yunus melahirkan ide - ide cemerlang dalam pengentasan kemiskinan. Salah satunya adalah dengan pendirian Grameen Bank, Bank yang khusus melayani kredit mikro bagi masyarakat miskin. Selain kemiskinan, Yunus juga menilai bahwa perdamaian dunia bisa dikaitkan dengan akses pendidikan yang merata pada semua lapisan masyarakat. Chief Executive Officer Sampoerna Foundation, Lin Che Wei, sangat sependapat dengan pendapat Yunus tentang hal itu. "Perluasan akses bagi masyarakat miskin adalah hal yang harus dilakukan oleh kita semua," ujarnya. Menurut dia, masyarakat miskin bukan karena mereka tidak memiliki aset. Mereka miskin karena tidak bisa menggunakan aset mereka sebagai modal untuk memperoleh akses pinjaman keuangan. Program yang diterapkan Yunus di Bangladesh untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin adalah membuka akses bisnis untuk masyarakat miskin, sehingga mereka mengangkat diri sendiri dari kemiskinan. "Bayangkan, Jika kelompok masyarakat miskin yang berjumlah lebih dari 37,7 juta di Indonesia ini diberi akses untuk berbisnis. Berapa besar potensi bisnis yang bisa dikembangkan untuk menyelamatkan Indonesia ke arah yang lebih baik?" ujar Che Wei setengah bertanya. Pada akhirnya, menurut che wei, salah satu faktor kunci yang membawa program Yunus ini pada keberhasilan adalah kepercayaan untuk memberikan akses kepada masyarakat miskin agar mereka bisa menciptakan jalannya sendiri untuk maju. |