| Perekrutan dianggap sebagai kunci bagi pendidikan |
| Monday, 22 October 2007 | |
|
Jakarta (The Jakarta Post: (19/09/07) Para pakar pendikan telah mengusulkan perlunya bagi pemerintah untuk mengembangkan proses rekrutmennya jika mengharapkan untuk bisa merekrut para guru yang berkualitas tinggi. “Kita tidak akan bisa meningkatkan sistem pendidikan kita kecuali jika proses rekrutmen para guru dikembangkan,” Kata Darmaningtyas dari Taman Siswa kepada Jakarta Post Kamis lalu. “Uji sertifikasi harus didasarkan pada keseimbangan antara tes tertulis termasuk penguasaan material dan metode pengajaran, karena tidak semua guru yang menguasai mata pelajaran cukup terampil untuk mengajar murid.” Di sejumlah tempat, dia menambahkan, “para guru masih direkrut hanya berdasar pada basis mata pelajaran dan kemampuan akademik mereka.” Anita Lie, seorang ahli metodologi pengajaran, mengatakan karena kurangnya guru-guru yang berkualitas, Indonesia perlu bekerja lebih keras untuk memastikan bahwa semua anak lulus pendidikan dasar.“Semua guru yang lulus proses sertifikasi perlu untuk menguasai pedagogik guna memecahkan masalah-malasah yang muncul dalam sektor pendidikan,” katanya. “Sebagai tambahan, para pembuat kebijakan juga harus mengecek prestasi para guru secara langsung untuk membuat arah yang jelas bagi tujuan sektor pendidikan negeri ini,” Anita menambahkan. Menurut kementrian pendidikan, Indonesia memiliki sekitar 2,8 juta guru. Program sertifikasi tahun ini menjangkau 250.000 guru. Nilai minimal kelulusan bagi para guru tahun ini adalah 850 dalam sebuah test yang mencakup tiga komponen: kualifikasi pendidikan dan pengalaman mengajar; pendidikan, pelatihan dan evaluasi; serta keterlibatan dalam forum ilmiah dan pengalaman berogranisasi di bidang pendidikan dan sosiologi. Menurut Setiono Sugiharto, salah satu dari asesor uji sertifikasi, hanya sedikit guru yang mendapatkan skor 850, ini berarti bahwa kebanyakan dari mereka tidak berkualitas. Kurangnya guru yang bersertifikasi dan berpengalaman telah membawa publik untuk berasumsi bahwa hanya sekolah-sekolah terbaiklah, baik negeri maupun swasta, yang mempunya guru-guru bersertifikat. Theresia Seneng Rahayu, 39, mengatakan bahwa dia lebih suka untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta di Jakarta, karena dia percaya bahwa itu akan memberikan lebih banyak manfaat karena mereka mempunyai guru-guru dengan pengalaman yang memadai. “Guru-guru di sini sering menghadiri seminar yang mungkin meningkatkan pengetahuan serta pengalaman mereka,” katanya. Sementara, soeorang ibu yg bekerja umur 51 tahun, yang tinggal di Surabaya, mengatakan bahwa dia lebih menyukai sekolah-sekolah negeri dari pada sekolah swasta. ”Tetapi itu haruslah sekolah negeri yang terbaik di kota, karena saya pikir para guru di sana sudah membuktikan bahwa mereka berkualitas,” kata Reni Ekawati. |