TV Kabel beri beasiswa untuk para murid
Friday, 23 November 2007

Jakarta (The Jakarta Post: (21/11/07) I Wayan Alit Sudarsana, seorang anak berusia 15 tahun  dari sebuah kampung di Sidemen, kabupaten Karangasem mengatakan Sabtu lalu bahwa dia punya sebuah cita-cita besar. “Saya ingin menjadi seorang ilmuwan. Saya suka fisika.” Akan tetapi, Alit, yang merupakan anak terkecil dari seorang tukang bangunan dan seorang ibu rumah tangga, khawatir jika impiannya tidak bisa terwujud oleh karena masalah ekonomi.

Jakarta (The Jakarta Post: (21/11/07) I Wayan Alit Sudarsana, seorang anak berusia 15 tahun  dari sebuah kampung di Sidemen, kabupaten Karangasem mengatakan Sabtu lalu bahwa dia punya sebuah cita-cita besar. “Saya ingin menjadi seorang ilmuwan. Saya suka fisika.” Akan tetapi, Alit, yang merupakan anak terkecil dari seorang tukang bangunan dan seorang ibu rumah tangga, khawatir jika impiannya tidak bisa terwujud oleh karena masalah ekonomi.

Pemuda itu, yang memenangkan juara ketiga dalam Kejuaraan Fisika untuk Indonesia bagian tengah dan timur, serta juara pertama dalam kontes pidato bahasa Inggris di Bali timur, mengisahkan bahwa tak satupun dari empat kakak kandungnya mengenyam pendidikan tinggi. “Saya ingin menjadi yang pertama dari keluarga yang tamat universitas,” katanya. Kisah Alit ini bukanlah satu-satunya di Bali. Ada banyak murid yang cerdas dan berprestasi tinggi yang terancam kehilangan kesempatan mereka belajar di pendidikan yang lebih tinggi oleh karena masalah-masalah ekonomi.

Ni Wayan Mawar Sari, 15 tahun, kehilangan enam saudara kandungnya yang meninggal karena penyakit dan tinggal di sebuah rumah kecil bersama dengan orang tuanya serta lima saudara kandungnya yang lain di Klungkung. Selalu tercatat sebagai murid yang baik, dia bercita-cita untuk bisa menjadi seorang dokter atau guru, tetapi dia tidak tahu bagaimana mendapatkan dana untuk biaya sekolahnya, mengingat orang tuannya hanyalah petani miskin.

Elan Merdy,  Chief Operating Officer Sampoerna Foundation, sebuah organisasi pendidikan nirlaba, mengemukakan bahwa jumlah mereka yang tamat pendidkan tinggi masihlah rendah, walaupun Bali termasuk sebagai daerah dengan Human Development Index (HDI) yang rankingnya relatif tinggi (ranking 15). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Maret 2007, dengan populasinya yang 2,4 juta, masih ada  terdapat sekitar 229.000 orang miskin di Bali.

Alit dan Mawar, bagaimanapun, bernasib lebih baik dari yang lainnya. Mereka baru-baru ini terpilih untuk program beasiswa baru yang diberikan oleh TV kabel ASTRO Entertainment.  Sekitar 50 siswa tingkat 10 dari kabupaten Buleleng, Bangli, Karangasem, dan Klungkung, bersama dengan 20 mahasiswa S-1 dari Bali, merupakan para penerima beasiswa tahap pertama.  Beasiswa senilai total US$1,5 juta diterima oleh para murid secara kolektif, yang diserahkan pada suatu acara pada hari Sabtu di SMU 4 Denpasar.

Direktur Eksekutif dari ASTRO Entertainment, Zainir Aminullah, mengatakan bahwa perusahaannya juga akan memberikan beasiswa bagi 725 murid sekolah menengah dan 160 mahasiswa di Bali selama 5 tahun. Perusahaan ini juga berencana memberikan penghargaan untuk 5,000 murid di seluruh Indonesia dalam waktu 3 tahun dan 10,000 murid dalam periode 10 tahunan.

Elan mengatakan bahwa proses seleksi untuk penerimanya dilaksanakan secara ketat. “Selain latar-belakang finansial dan prestasi akademik, kami juga memperhatikan kesadaran sosialnya.” Zaini mengatakan bahwa beasiswa harus diberikan pada murid-murid yang nantinya  akan mampu untuk membawa perubahan menjadikan Bali dan Indonesia lebih baik.

IBG Arditya Hardaya, 18, mahasiswa baru di Unversitas Indonesia yang sedang mendalamai ilmu computer, ingin bisa menyelesaikan program master-nya dan lalu pulang kembali ke Bali. “Saya ingin kembali ke rumah dan mengembangkan bisnis computer di sini,” katanya. “Sebagai penerima beasiswa saya mengerti bahwa saya punya tanggungjawab pada masyarakat.”